Perilaku nyinyir jadi menjamur dibangsa kita. Hal ini menjadi keprihatinan dikalangan penduduk dari tingkat anak-anak di sekolah dan rekan bermainnya, sesama kawan di kantor atau kampus, kawan kerja, lingkungan sekitar, dirumah apalagi di kalangan pemerintah.
Seperti komentar seorang mantan jurnalis Delia, Saya dulu jadi korban jahat komentar netizen waktu menjadi jurnalis Rappler. Kenapa ya, setiap kali aku meliput atau ngomongin isu sosial pasti tersedia saja yang komentar, entah perihal subjek beritanya atau yang paling kronis ya jika lagi nulis opini — saya yang kena.
Sakit hati? Iya. Tapi sebetulnya aku lebih marah karena kok ya penduduk bodoh-bodoh amat dan bebel kalau dikasih tahu.
Saya enggak senang munafik, komentar-komentar netizen sebenarnya kadang waktu menjadi hiburan tersendiri. Ngaku deh, kamu terhitung sering buka post Instagram selebgram hanya dikarenakan ingin baca hujatan kan?
Ironis bangsa ini yang menganut demokrasi namun tidak benar kaprah apalagi pasca reformasi jamannya jaman Jokowi menjadi dari pejabat publik hingga penduduk dan kalangan kaum muda berani yang cenderung kebablasan dan hobi nyinyir, kita hampir meniadakan tata kesopanan di dalam memperlakukan sesama kita. Pentingnya memelihara mulut kami dikarenakan kata-kata menunjukkan kualitas diri seseorang. Jangan mengkritik karya orang supaya menyebabkan dirimu sendiri lupa berkarya.
Mereka adalah Fahri Hamzah dan Fadli Zon. Keduanya orang ini pantas mendapat gelar pelopor budaya nyinyir di Indonesia. Keduanya terlalu hobi sekali nyinyir kepada Presiden baik di dunia nyata maupun di sarana sosial. Karena mereka lah, masyarakat ikut-ikutan untuk nyinyir kepada Jokowi. Karena merekalah, masyarakat tidak punyai rasa hormat kepada Jokowi.
Mereka untungkan jadi bagian DPR di sementara presidennya Jokowi. Keduanya bisa melampiaskan nafsu nyinyirnya dengan puas. Jokowi tak dulu sama sekali mempermasalahkan
nyinyiran mereka dikarenakan memang tidak level. Waktu Jokowi lebih berharga berasal dari pada hanya mengomentari nyinyiran keduanya. Namun tidak sanggup dipungkiri, hobi nyinyir mereka sudah menyebar bagai virus ke tengah-tengah masyarakat.
Hanya d di jaman Jokowi, anggota DPR berani tidak cukup ajar pada presiden. Apalagi Jokowi cuma membiarkan hobi nyinyir para DPR dan bullying yang ditujukan padanya.
Seandainya Jokowi seperti Suharto nyaris sanggup dipastikan takkan tersedia bagian DPR bahkan penduduk yang berani nyinyir.
Ngomongin soal netizen dengan kata lain penghuni dunia maya, kemungkinan nggak tersedia yang ngalahin netizen dari Indonesia. Sangat banyak sekali contohnya layaknya ada moment yang lagi booming, pasti kreativitas netizen Indonesia langsung beraksi. Mulai berasal dari meme sampai jokes yang kocak.
Nggak cuma kreativitas buat meme aja lho. Siapa kembali yang jago meviralkan suatu kejadian kecuali bukan netizen Indonesia? Mulai dari moment miris, mengharukan, hingga celotehan kocak.
Komentar
Posting Komentar