Hal apa yang sebetulnya mampu kami komentari mengenai netizen, padahal kami semua bagian berasal dari netizen
Tapi kemungkinan di sini kami mau bahas netizen yang hobi komentar dan nyinyir, terlebih pada orang yang enggak dikenal – iya, orang-orang yang somehow mempunyai kala dan tenaga untuk komentar di akun-akun Instagram artis atau ceramah tentang ‘menutup aurat’ bersama dengan dalih ‘saling mengingatkan’ padahal mah emang pengin terlihat mulia aja.
Pejabat negara jalankan pernyataannya di fasilitas massa cetak maupun online hingga di akun media sosial seperti Twiiter, Facebook, Instagram, dan lain-lain yang sarat dengan nyinyir. Nyinyir awalannya diawali berasal dari bercanda lantas kebiasaan apalagi hingga tendensius politis yang sarat bersama politik devide et impera.
Ironis bangsa ini yang menganut demokrasi tapi salah kaprah apalagi pasca reformasi jamannya masa Jokowi merasa berasal dari pejabat publik sampai penduduk dan kalangan kaum muda berani yang condong kebablasan dan hobi nyinyir, kita nyaris melupakan tata kesopanan dalam memperlakukan sesama kita. Pentingnya menjaga mulut kita sebab kata-kata membuktikan kualitas diri seseorang. Jangan mengkritik karya orang sehingga menyebabkan dirimu sendiri lupa berkarya.
Mereka adalah Fahri Hamzah dan Fadli Zon. Keduanya orang ini pantas mendapat gelar pelopor budaya nyinyir di Indonesia. Keduanya amat hobi sekali nyinyir kepada Presiden baik di dunia nyata maupun di tempat sosial. Karena mereka lah, penduduk ikut-ikutan untuk nyinyir kepada Jokowi. Karena merekalah, masyarakat tidak punya rasa hormat kepada Jokowi.
Mereka untungkan jadi anggota DPR di pas presidennya Jokowi. Keduanya bisa melampiaskan nafsu nyinyirnya dengan puas. Jokowi tak pernah sekalipun mempermasalahkan
nyinyiran mereka dikarenakan sesungguhnya tidak level. Waktu Jokowi lebih bernilai dari pada sekedar mengomentari nyinyiran keduanya. Namun tidak mampu dipungkiri, hobi nyinyir mereka udah menyebar bagai virus ke tengah-tengah masyarakat.
Hanya d di masa Jokowi, bagian DPR berani tidak cukup ajar terhadap presiden. Apalagi Jokowi hanya membebaskan hobi nyinyir para DPR dan bullying yang ditujukan padanya.
Seandainya Jokowi layaknya Suharto hampir dapat dipastikan takkan tersedia bagian DPR apalagi penduduk yang berani nyinyir.
Keunikan netizen dapat nampak baik terhitung bisa muncul jahat. Di satu segi patut dianggap mereka sebetulnya suka membela nilai kebenaran dan kebajikan di dalam pandangan mereka, Tapi di lain segi langkah yang mereka pergunakan paling tidak selamanya sanggup bikin kita rajin ibadah, bukan begitu ya gaees?..
Membela kebenaran, bersama langkah yang brutal. Mungkin itu pepatah yang tepat bikin netizen.
Komentar
Posting Komentar