Hal apa yang sebetulnya sanggup kami komentari mengenai netizen, padahal kami semua bagian dari netizen
Tapi kemungkinan di sini kami sudi bahas netizen yang hobi komentar dan nyinyir, terutama pada orang yang enggak dikenal – iya, orang-orang yang somehow miliki pas dan tenaga untuk komentar di akun-akun Instagram artis atau ceramah tentang ‘menutup aurat’ dengan dalih ‘saling mengingatkan’ padahal mah emang pengin muncul mulia aja.
Seperti komentar seorang mantan jurnalis Delia, Saya dulu jadi korban jahat komentar netizen selagi jadi jurnalis Rappler. Kenapa ya, setiap kali saya meliput atau ngomongin isu sosial pasti tersedia saja yang komentar, entah berkenaan subjek beritanya atau yang paling kronis ya kecuali lagi nulis opini — aku yang kena.
Sakit hati? Iya. Tapi sesungguhnya saya lebih marah karena kok ya penduduk bodoh-bodoh amat dan bebel kalau dikasih tahu.
Saya enggak rela munafik, komentar-komentar netizen sesungguhnya kadang waktu jadi hiburan tersendiri. Ngaku deh, anda termasuk kerap membuka post Instagram selebgram hanya sebab ingin baca hujatan kan?
Media sosial memberikan kami anonimitas dan kamuflase dalam wujud grup supaya kami sanggup bebas berbuat apapun. Hal ini yang akhirnya beri tambahan semacam ‘kekuatan’ dan ‘kebebasan berasal dari tanggung jawab’. Jika sudah begini berkenan nyalahin siapa? Internet? Provider? Pemerintah yang anda protes dikarenakan bikin gerakan internet sehat?
Mereka adalah Fahri Hamzah dan Fadli Zon. Keduanya orang ini pantas mendapat gelar pelopor budaya nyinyir di Indonesia. Keduanya amat hobi sekali nyinyir kepada Presiden baik di dunia nyata maupun di tempat sosial. Karena mereka lah, penduduk ikut-ikutan untuk nyinyir kepada Jokowi. Karena merekalah, penduduk tidak memiliki rasa hormat kepada Jokowi.
Mereka menguntungkan jadi bagian DPR di pas presidennya Jokowi. Keduanya dapat melampiaskan nafsu nyinyirnya bersama dengan puas. Jokowi tak pernah samasekali mempermasalahkan
nyinyiran mereka sebab sesungguhnya tidak level. Waktu Jokowi lebih bernilai berasal dari pada hanya mengomentari nyinyiran keduanya. Namun tidak mampu dipungkiri, hobi nyinyir mereka udah menyebar bagai virus ke tengah-tengah masyarakat.
Hanya d di jaman Jokowi, bagian DPR berani kurang ajar terhadap presiden. Apalagi Jokowi cuma membebaskan hobi nyinyir para DPR dan bullying yang dimaksudkan padanya.
Seandainya Jokowi seperti Suharto nyaris dapat dipastikan takkan tersedia anggota DPR bahkan penduduk yang berani nyinyir.
Keunikan netizen mampu terlihat baik juga dapat muncul jahat. Di satu segi patut dianggap mereka sebenarnya puas membela nilai kebenaran dan kebajikan didalam pandangan mereka, Tapi di lain segi cara yang mereka pergunakan paling tidak tetap dapat bikin kita rajin ibadah, bukan begitu ya gaees?..
Membela kebenaran, bersama cara yang brutal. Mungkin itu pepatah yang pas buat netizen.
Komentar
Posting Komentar