Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2018

Dampak tradisi Nyinyir Para Netizen

Hal apa yang sesungguhnya bisa kita komentari perihal netizen, padahal kita seluruh bagian dari netizen Tapi kemungkinan di sini kita rela bahas netizen yang hobi komentar dan nyinyir, terutama terhadap orang yang enggak dikenal – iya, orang-orang yang somehow punyai sementara dan tenaga untuk komentar di akun-akun Instagram artis atau ceramah tentang ‘menutup aurat’ bersama dalih ‘saling mengingatkan’ padahal mah emang pengin keluar mulia aja. Seperti komentar seorang mantan jurnalis Delia, Saya dulu jadi korban jahat komentar netizen selagi jadi jurnalis Rappler. Kenapa ya, setiap kali saya meliput atau ngomongin isu sosial tentu tersedia saja yang komentar, entah tentang subjek beritanya atau yang paling kritis ya terkecuali ulang nulis opini — saya yang kena. Sakit hati? Iya. Tapi sesungguhnya aku lebih marah sebab kok ya penduduk bodoh-bodoh benar-benar dan bebel kecuali dikasih tahu. Saya enggak sudi munafik, komentar-komentar netizen memang kadang waktu menjadi hiburan tersendir...

Woow! Fakta Dua orang ini biangnya Kebiasaan Nyinyir di Indonesia

Hal apa yang sebetulnya dapat kami komentari mengenai netizen, padahal kami seluruh bagian dari netizen Tapi barangkali di sini kita rela bahas netizen yang hobi komentar dan nyinyir, terlebih terhadap orang yang enggak dikenal – iya, orang-orang yang somehow punya sementara dan tenaga untuk komentar di akun-akun Instagram artis atau ceramah tentang ‘menutup aurat’ bersama dengan dalih ‘saling mengingatkan’ padahal mah emang pengin muncul mulia aja. Seperti komentar seorang mantan jurnalis Delia, Saya dulu menjadi korban jahat komentar netizen saat menjadi jurnalis Rappler. Kenapa ya, setiap kali aku meliput atau ngomongin isu sosial tentu ada saja yang komentar, entah tentang subjek beritanya atau yang paling kritis ya kecuali lagi nulis opini — aku yang kena. Sakit hati? Iya. Tapi sebenarnya aku lebih marah gara-gara kok ya penduduk bodoh-bodoh sangat dan bebel kecuali dikasih tahu. Saya enggak senang munafik, komentar-komentar netizen sesungguhnya kadang waktu jadi hiburan tersendir...

Heboh! Fakta Mereka ini gurunya budaya Nyinyir Kaum Sosmed

Hal apa yang memang dapat kita komentari berkenaan netizen, padahal kita seluruh anggota dari netizen Tapi barangkali di sini kami mau bahas netizen yang hobi komentar dan nyinyir, terutama terhadap orang yang enggak dikenal – iya, orang-orang yang somehow memiliki sementara dan tenaga untuk komentar di akun-akun Instagram artis atau ceramah mengenai ‘menutup aurat’ bersama dengan dalih ‘saling mengingatkan’ padahal mah emang pengin nampak mulia aja. Seperti komentar seorang mantan jurnalis Delia, Saya dulu jadi korban jahat komentar netizen kala jadi jurnalis Rappler. Kenapa ya, tiap-tiap kali saya meliput atau ngomongin isu sosial pasti ada saja yang komentar, entah berkenaan subjek beritanya atau yang paling parah ya terkecuali lagi nulis opini — saya yang kena. Sakit hati? Iya. Tapi sebetulnya aku lebih marah karena kok ya masyarakat bodoh-bodoh benar-benar dan bebel jikalau dikasih tahu. Saya enggak senang munafik, komentar-komentar netizen sesungguhnya terkadang menjadi hiburan t...

Jeleknya normalitas Nyinyir Para Netizen

Gaya nyinyir jadi menjamur dibangsa kita. Hal ini jadi keprihatinan dikalangan penduduk dari tingkat anak-anak di sekolah dan teman bermainnya, sesama rekan di kantor atau kampus, kawan kerja, lingkungan sekitar, dirumah lebih-lebih di kalangan pemerintah. Seperti komentar seorang mantan jurnalis Delia, Saya dulu menjadi korban jahat komentar netizen sementara jadi jurnalis Rappler. Kenapa ya, tiap tiap kali saya meliput atau ngomongin isu sosial tentu ada saja yang komentar, entah tentang subjek beritanya atau yang paling kronis ya terkecuali ulang nulis opini — saya yang kena. Sakit hati? Iya. Tapi sebetulnya aku lebih marah karena kok ya masyarakat bodoh-bodoh amat dan bebel kecuali dikasih tahu. Saya enggak berkenan munafik, komentar-komentar netizen sesungguhnya kadang kala menjadi hiburan tersendiri. Ngaku deh, anda juga kerap buka post Instagram selebgram hanya dikarenakan ingin baca hujatan kan? Ironis bangsa ini yang menganut demokrasi tetapi tidak benar kaprah lebih-lebih pa...

Woow! Ternyata Dua orang ini gurunya Kebiasaan Nyinyir Kaum Sosmed

Perilaku nyinyir merasa menjamur dibangsa kita. Hal ini menjadi keprihatinan dikalangan masyarakat berasal dari tingkat anak-anak di sekolah dan teman bermainnya, sesama kawan di kantor atau kampus, rekan kerja, lingkungan sekitar, dirumah apalagi di kalangan pemerintah. Pejabat negara melaksanakan pernyataannya di media massa cetak maupun online sampai di akun media sosial seperti Twiiter, Facebook, Instagram, dll yang sarat dengan nyinyir. Nyinyir awalannya dimulai berasal dari bercanda lantas kebiasaan lebih-lebih hingga tendensius politis yang sarat bersama dengan politik devide et impera. Media sosial mengimbuhkan kita anonimitas dan kamuflase di dalam bentuk group agar kami bisa bebas berbuat apapun. Hal ini yang selanjutnya menambahkan semacam ‘kekuatan’ dan ‘kebebasan dari tanggung jawab’. Jika telah begini rela nyalahin siapa? Internet? Provider? Pemerintah yang kamu protes dikarenakan membuat gerakan internet sehat? Mereka adalah Fahri Hamzah dan Fadli Zon. Keduanya orang i...

Nynyir Termasuk kebiasaan Menyindir Kaum Netizen

Hal apa yang sebetulnya bisa kami komentari berkenaan netizen, padahal kami seluruh bagian dari netizen Tapi mungkin di sini kami rela bahas netizen yang hobi komentar dan nyinyir, terutama terhadap orang yang enggak dikenal – iya, orang-orang yang somehow punyai waktu dan tenaga untuk komentar di akun-akun Instagram artis atau ceramah mengenai ‘menutup aurat’ dengan dalih ‘saling mengingatkan’ padahal mah emang pengin terlihat mulia aja. Seperti komentar seorang mantan jurnalis Delia, Saya pernah jadi korban jahat komentar netizen sementara menjadi jurnalis Rappler. Kenapa ya, setiap kali saya meliput atau ngomongin isu sosial pasti ada saja yang komentar, entah perihal subjek beritanya atau yang paling kronis ya jikalau kembali nulis opini — aku yang kena. Sakit hati? Iya. Tapi sebetulnya saya lebih marah karena kok ya masyarakat bodoh-bodoh sangat dan bebel kecuali dikasih tahu. Saya enggak berkenan munafik, komentar-komentar netizen sebenarnya terkadang jadi hiburan tersendiri. Nga...

Inilah tradisi nyinyir para netizen

Hal apa yang memang mampu kita komentari perihal netizen, padahal kita seluruh bagian dari netizen Tapi kemungkinan di sini kami mau bahas netizen yang hobi komentar dan nyinyir, terutama pada orang yang enggak dikenal – iya, orang-orang yang somehow punyai pas dan tenaga untuk komentar di akun-akun Instagram artis atau ceramah tentang ‘menutup aurat’ bersama dengan dalih ‘saling mengingatkan’ padahal mah emang pengin terlihat mulia aja. Seperti komentar seorang mantan jurnalis Delia, Saya pernah jadi korban jahat komentar netizen sementara jadi jurnalis Rappler. Kenapa ya, setiap kali saya meliput atau ngomongin isu sosial pasti tersedia saja yang komentar, entah tentang subjek beritanya atau yang paling gawat ya terkecuali ulang nulis opini — saya yang kena. Sakit hati? Iya. Tapi sesungguhnya saya lebih marah dikarenakan kok ya masyarakat bodoh-bodoh terlalu dan bebel kecuali dikasih tahu. Saya enggak mau munafik, komentar-komentar netizen sebetulnya sering kadang menjadi hiburan ter...

Nynyir Merupkan Budaya Menyindir Kaum Netizen

Kesengan nyinyir mulai menjamur dibangsa kita. Hal ini jadi keprihatinan dikalangan penduduk dari tingkat anak-anak di sekolah dan teman bermainnya, sesama kawan di kantor atau kampus, teman kerja, lingkungan sekitar, dirumah bahkan di kalangan pemerintah. Pejabat negara jalankan pernyataannya di tempat massa cetak maupun online sampai di account media sosial layaknya Twiiter, Facebook, Instagram, dll yang sarat bersama dengan nyinyir. Nyinyir mulanya dimulai dari bercanda kemudian tradisi lebih-lebih sampai tendensius politis yang sarat dengan politik devide et impera. Media sosial mengimbuhkan kami anonimitas dan kamuflase dalam wujud kelompok sehingga kita bisa bebas berbuat apapun. Hal ini yang kelanjutannya mengimbuhkan semacam ‘kekuatan’ dan ‘kebebasan dari tanggung jawab’. Jika telah begini sudi nyalahin siapa? Internet? Provider? Pemerintah yang kamu protes sebab buat gerakan internet sehat? Mereka adalah Fahri Hamzah dan Fadli Zon. Keduanya orang ini pantas mendapat gelar pe...

Woow! Fakta Dua orang ini Masternya budaya Nyinyir di Indonesia

Perilaku nyinyir mulai menjamur dibangsa kita. Hal ini menjadi keprihatinan dikalangan penduduk berasal dari tingkat anak-anak di sekolah dan kawan bermainnya, sesama teman di kantor atau kampus, kawan kerja, lingkungan sekitar, dirumah bahkan di kalangan pemerintah. Pejabat negara jalankan pernyataannya di fasilitas massa cetak maupun online sampai di akun fasilitas sosial layaknya Twiiter, Facebook, Instagram, dan lain-lain yang sarat dengan nyinyir. Nyinyir awalannya di mulai berasal dari bercanda sesudah itu rutinitas lebih-lebih hingga tendensius politis yang sarat bersama politik devide et impera. Media sosial beri tambahan kami anonimitas dan kamuflase dalam bentuk kelompok sehingga kita bisa bebas berbuat apapun. Hal ini yang pada akhirnya beri tambahan semacam ‘kekuatan’ dan ‘kebebasan berasal dari tanggung jawab’. Jika telah begini sudi nyalahin siapa? Internet? Provider? Pemerintah yang anda protes dikarenakan buat gerakan internet sehat? Mereka adalah Fahri Hamzah dan Fad...

Woow! Ternyata Dua orang ini biangnya budaya Nyinyir di Indonesia

Gaya nyinyir terasa menjamur dibangsa kita. Hal ini jadi keprihatinan dikalangan penduduk dari tingkat anak-anak di sekolah dan teman bermainnya, sesama kawan di kantor atau kampus, teman kerja, lingkungan sekitar, dirumah bahkan di kalangan pemerintah. Pejabat negara laksanakan pernyataannya di fasilitas massa cetak maupun online hingga di account sarana sosial seperti Twiiter, Facebook, Instagram, dan lain-lain yang sarat dengan nyinyir. Nyinyir mulanya diawali berasal dari bercanda kemudian normalitas bahkan hingga tendensius politis yang sarat bersama politik devide et impera. Media sosial memberikan kami anonimitas dan kamuflase di dalam wujud grup agar kita bisa bebas berbuat apapun. Hal ini yang kelanjutannya memberi tambahan semacam ‘kekuatan’ dan ‘kebebasan berasal dari tanggung jawab’. Jika telah begini mau nyalahin siapa? Internet? Provider? Pemerintah yang anda protes sebab bikin gerakan internet sehat? Mereka adalah Fahri Hamzah dan Fadli Zon. Keduanya orang ini pantas m...

Buruknya Budaya Nyinyir Para Netizen

Hal apa yang sesungguhnya mampu kami komentari mengenai netizen, padahal kami seluruh anggota berasal dari netizen Tapi kemungkinan di sini kami mau bahas netizen yang hobi komentar dan nyinyir, terlebih pada orang yang enggak dikenal – iya, orang-orang yang somehow punyai saat dan tenaga untuk komentar di akun-akun Instagram artis atau ceramah berkenaan ‘menutup aurat’ bersama dengan dalih ‘saling mengingatkan’ padahal mah emang pengin terlihat mulia aja. Seperti komentar seorang mantan jurnalis Delia, Saya dulu menjadi korban jahat komentar netizen saat jadi jurnalis Rappler. Kenapa ya, setiap kali saya meliput atau ngomongin isu sosial pasti tersedia saja yang komentar, entah mengenai subjek beritanya atau yang paling parah ya kecuali lagi nulis opini — saya yang kena. Sakit hati? Iya. Tapi sebetulnya aku lebih marah gara-gara kok ya penduduk bodoh-bodoh benar-benar dan bebel jikalau dikasih tahu. Saya enggak berkenan munafik, komentar-komentar netizen sebenarnya terkadang jadi hibu...

Nynyir Merupkan Budaya Menyindir Kaum Sosmed

Gaya nyinyir menjadi menjamur dibangsa kita. Hal ini jadi keprihatinan dikalangan masyarakat dari tingkat anak-anak di sekolah dan rekan bermainnya, sesama rekan di kantor atau kampus, rekan kerja, lingkungan sekitar, dirumah lebih-lebih di kalangan pemerintah. Pejabat negara jalankan pernyataannya di tempat massa cetak maupun online hingga di account tempat sosial layaknya Twiiter, Facebook, Instagram, etc yang sarat bersama dengan nyinyir. Nyinyir awalannya di awali berasal dari bercanda lantas tradisi apalagi hingga tendensius politis yang sarat dengan politik devide et impera. Media sosial beri tambahan kami anonimitas dan kamuflase didalam wujud kelompok agar kami sanggup bebas berbuat apapun. Hal ini yang pada akhirnya mengimbuhkan semacam ‘kekuatan’ dan ‘kebebasan dari tanggung jawab’. Jika telah begini mau nyalahin siapa? Internet? Provider? Pemerintah yang kamu protes gara-gara bikin gerakan internet sehat? Mereka adalah Fahri Hamzah dan Fadli Zon. Keduanya orang ini pantas ...

Woow! Fakta Dua orang ini Masternya Kebiasaan Nyinyir Netizen

Gaya nyinyir merasa menjamur dibangsa kita. Hal ini menjadi keprihatinan dikalangan masyarakat dari tingkat anak-anak di sekolah dan rekan bermainnya, sesama teman di kantor atau kampus, kawan kerja, lingkungan sekitar, dirumah bahkan di kalangan pemerintah. Seperti komentar seorang mantan jurnalis Delia, Saya dulu menjadi korban jahat komentar netizen selagi jadi jurnalis Rappler. Kenapa ya, tiap tiap kali saya meliput atau ngomongin isu sosial tentu ada saja yang komentar, entah mengenai subjek beritanya atau yang paling gawat ya jika ulang nulis opini — saya yang kena. Sakit hati? Iya. Tapi sebetulnya aku lebih marah dikarenakan kok ya masyarakat bodoh-bodoh amat dan bebel jika dikasih tahu. Saya enggak berkenan munafik, komentar-komentar netizen sebetulnya kadangkala jadi hiburan tersendiri. Ngaku deh, kamu juga kerap membuka post Instagram selebgram cuma sebab ingin baca hujatan kan? Ironis bangsa ini yang menganut demokrasi tapi keliru kaprah bahkan pasca reformasi jamannya masa...

Woow! Ternyata Mereka ini biangnya budaya Nyinyir di Indonesia

Kebiasaan nyinyir merasa menjamur dibangsa kita. Hal ini jadi keprihatinan dikalangan masyarakat berasal dari tingkat anak-anak di sekolah dan rekan bermainnya, sesama teman di kantor atau kampus, rekan kerja, lingkungan sekitar, dirumah apalagi di kalangan pemerintah. Seperti komentar seorang mantan jurnalis Delia, Saya dulu menjadi korban jahat komentar netizen sementara menjadi jurnalis Rappler. Kenapa ya, tiap tiap kali saya meliput atau ngomongin isu sosial tentu ada saja yang komentar, entah tentang subjek beritanya atau yang paling gawat ya jikalau lagi nulis opini — aku yang kena. Sakit hati? Iya. Tapi sesungguhnya aku lebih marah dikarenakan kok ya masyarakat bodoh-bodoh terlalu dan bebel jikalau dikasih tahu. Saya enggak senang munafik, komentar-komentar netizen sebenarnya kadangkala menjadi hiburan tersendiri. Ngaku deh, anda juga kerap buka post Instagram selebgram cuma gara-gara ingin baca hujatan kan? Media sosial beri tambahan kita anonimitas dan kamuflase di dalam bent...

Woow! Ternyata Dua orang ini biangnya budaya Nyinyir Netizen

Gaya nyinyir terasa menjamur dibangsa kita. Hal ini menjadi keprihatinan dikalangan penduduk dari tingkat anak-anak di sekolah dan teman bermainnya, sesama rekan di kantor atau kampus, kawan kerja, lingkungan sekitar, dirumah bahkan di kalangan pemerintah. Seperti komentar seorang mantan jurnalis Delia, Saya dulu menjadi korban jahat komentar netizen sementara menjadi jurnalis Rappler. Kenapa ya, tiap tiap kali saya meliput atau ngomongin isu sosial tentu tersedia saja yang komentar, entah tentang subjek beritanya atau yang paling parah ya jikalau lagi nulis opini — saya yang kena. Sakit hati? Iya. Tapi sesungguhnya aku lebih marah karena kok ya masyarakat bodoh-bodoh amat dan bebel kalau dikasih tahu. Saya enggak sudi munafik, komentar-komentar netizen memang kadang kala jadi hiburan tersendiri. Ngaku deh, kamu terhitung kerap membuka post Instagram selebgram cuma dikarenakan ingin baca hujatan kan? Ironis bangsa ini yang menganut demokrasi tetapi tidak benar kaprah lebih-lebih pasca...

Woow! Ternyata Dua orang ini biangnya Kebiasaan Nyinyir Kaum Sosmed

Hal apa yang sebetulnya mampu kita komentari berkenaan netizen, padahal kami seluruh anggota dari netizen Tapi bisa saja di sini kita rela bahas netizen yang hobi komentar dan nyinyir, terutama pada orang yang enggak dikenal – iya, orang-orang yang somehow miliki kala dan tenaga untuk komentar di akun-akun Instagram artis atau ceramah tentang ‘menutup aurat’ bersama dengan dalih ‘saling mengingatkan’ padahal mah emang pengin muncul mulia aja. Seperti komentar seorang mantan jurnalis Delia, Saya dulu menjadi korban jahat komentar netizen pas menjadi jurnalis Rappler. Kenapa ya, tiap-tiap kali aku meliput atau ngomongin isu sosial pasti ada saja yang komentar, entah tentang subjek beritanya atau yang paling gawat ya jika ulang nulis opini — aku yang kena. Sakit hati? Iya. Tapi sebenarnya aku lebih marah sebab kok ya penduduk bodoh-bodoh benar-benar dan bebel kalau dikasih tahu. Saya enggak sudi munafik, komentar-komentar netizen sebetulnya kadang kala menjadi hiburan tersendiri. Ngaku de...

Nynyir Adalah tradisi Menyindir Kaum Netizen

Perilaku nyinyir jadi menjamur dibangsa kita. Hal ini jadi keprihatinan dikalangan penduduk dari tingkat anak-anak di sekolah dan teman bermainnya, sesama rekan di kantor atau kampus, rekan kerja, lingkungan sekitar, dirumah apalagi di kalangan pemerintah. Seperti komentar seorang mantan jurnalis Delia, Saya dulu jadi korban jahat komentar netizen kala jadi jurnalis Rappler. Kenapa ya, tiap tiap kali aku meliput atau ngomongin isu sosial tentu ada saja yang komentar, entah tentang subjek beritanya atau yang paling kronis ya kecuali ulang nulis opini — aku yang kena. Sakit hati? Iya. Tapi sesungguhnya saya lebih marah sebab kok ya masyarakat bodoh-bodoh terlampau dan bebel jika dikasih tahu. Saya enggak rela munafik, komentar-komentar netizen sebenarnya sering kadang menjadi hiburan tersendiri. Ngaku deh, anda juga sering membuka post Instagram selebgram hanya karena ingin baca hujatan kan? Ironis bangsa ini yang menganut demokrasi tapi keliru kaprah lebih-lebih pasca reformasi jamanny...

Buruknya tradisi Nyinyir Para Netizen

Hal apa yang sebenarnya sanggup kita komentari perihal netizen, padahal kita semua anggota berasal dari netizen Tapi bisa saja di sini kami mau bahas netizen yang hobi komentar dan nyinyir, lebih-lebih terhadap orang yang enggak dikenal – iya, orang-orang yang somehow punya kala dan tenaga untuk komentar di akun-akun Instagram artis atau ceramah mengenai ‘menutup aurat’ bersama dengan dalih ‘saling mengingatkan’ padahal mah emang pengin nampak mulia aja. Seperti komentar seorang mantan jurnalis Delia, Saya dulu menjadi korban jahat komentar netizen pas menjadi jurnalis Rappler. Kenapa ya, setiap kali aku meliput atau ngomongin isu sosial tentu ada saja yang komentar, entah mengenai subjek beritanya atau yang paling kritis ya kecuali lagi nulis opini — saya yang kena. Sakit hati? Iya. Tapi sebenarnya aku lebih marah sebab kok ya masyarakat bodoh-bodoh terlalu dan bebel kecuali dikasih tahu. Saya enggak mau munafik, komentar-komentar netizen sesungguhnya kadang kala jadi hiburan tersendi...

Heboh! Ternyata Dua orang ini Masternya Kebiasaan Nyinyir Kaum Sosmed

Kebiasaan nyinyir mulai menjamur dibangsa kita. Hal ini menjadi keprihatinan dikalangan penduduk berasal dari tingkat anak-anak di sekolah dan rekan bermainnya, sesama rekan di kantor atau kampus, rekan kerja, lingkungan sekitar, dirumah lebih-lebih di kalangan pemerintah. Seperti komentar seorang mantan jurnalis Delia, Saya dulu menjadi korban jahat komentar netizen pas menjadi jurnalis Rappler. Kenapa ya, tiap-tiap kali aku meliput atau ngomongin isu sosial tentu ada saja yang komentar, entah berkenaan subjek beritanya atau yang paling kronis ya kecuali lagi nulis opini — saya yang kena. Sakit hati? Iya. Tapi sesungguhnya saya lebih marah karena kok ya penduduk bodoh-bodoh amat dan bebel jika dikasih tahu. Saya enggak senang munafik, komentar-komentar netizen sesungguhnya kadang kala jadi hiburan tersendiri. Ngaku deh, kamu juga kerap buka post Instagram selebgram cuma dikarenakan ingin baca hujatan kan? Ironis bangsa ini yang menganut demokrasi tapi keliru kaprah bahkan pasca refor...

Buruknya kebiasaan Nyinyir Para Netizen

Kesengan nyinyir terasa menjamur dibangsa kita. Hal ini jadi keprihatinan dikalangan penduduk berasal dari tingkat anak-anak di sekolah dan kawan bermainnya, sesama teman di kantor atau kampus, teman kerja, lingkungan sekitar, dirumah lebih-lebih di kalangan pemerintah. Seperti komentar seorang mantan jurnalis Delia, Saya dulu menjadi korban jahat komentar netizen pas jadi jurnalis Rappler. Kenapa ya, tiap-tiap kali saya meliput atau ngomongin isu sosial pasti ada saja yang komentar, entah tentang subjek beritanya atau yang paling parah ya kecuali kembali nulis opini — saya yang kena. Sakit hati? Iya. Tapi memang saya lebih marah gara-gara kok ya penduduk bodoh-bodoh sangat dan bebel jika dikasih tahu. Saya enggak rela munafik, komentar-komentar netizen sebenarnya sering kadang menjadi hiburan tersendiri. Ngaku deh, kamu juga sering buka post Instagram selebgram hanya dikarenakan ingin baca hujatan kan? Media sosial menambahkan kita anonimitas dan kamuflase dalam wujud grup sehingga k...

Heboh! Fakta Mereka ini biangnya Kebiasaan Nyinyir di Indonesia

Hal apa yang sebenarnya bisa kita komentari tentang netizen, padahal kita seluruh anggota berasal dari netizen Tapi barangkali di sini kita berkenan bahas netizen yang hobi komentar dan nyinyir, lebih-lebih pada orang yang enggak dikenal – iya, orang-orang yang somehow miliki kala dan tenaga untuk komentar di akun-akun Instagram artis atau ceramah mengenai ‘menutup aurat’ bersama dengan dalih ‘saling mengingatkan’ padahal mah emang pengin terlihat mulia aja. Pejabat negara lakukan pernyataannya di sarana massa cetak maupun online hingga di account media sosial seperti Twiiter, Facebook, Instagram, dan lain-lain yang sarat bersama nyinyir. Nyinyir mulanya dimulai dari bercanda lantas rutinitas bahkan hingga tendensius politis yang sarat bersama dengan politik devide et impera. Media sosial mengimbuhkan kita anonimitas dan kamuflase didalam wujud grup supaya kita bisa bebas berbuat apapun. Hal ini yang pada akhirnya memberi tambahan semacam ‘kekuatan’ dan ‘kebebasan berasal dari tanggun...

Jeleknya rutinitas Nyinyir Para Netizen

Budaya nyinyir terasa menjamur dibangsa kita. Hal ini menjadi keprihatinan dikalangan penduduk berasal dari tingkat anak-anak di sekolah dan kawan bermainnya, sesama kawan di kantor atau kampus, rekan kerja, lingkungan sekitar, dirumah bahkan di kalangan pemerintah. Pejabat negara jalankan pernyataannya di fasilitas massa cetak maupun online sampai di account fasilitas sosial seperti Twiiter, Facebook, Instagram, dan seterusnya yang sarat bersama dengan nyinyir. Nyinyir awalnya dimulai dari bercanda lantas rutinitas lebih-lebih hingga tendensius politis yang sarat bersama dengan politik devide et impera. Media sosial beri tambahan kami anonimitas dan kamuflase didalam bentuk grup supaya kami mampu bebas berbuat apapun. Hal ini yang kelanjutannya beri tambahan semacam ‘kekuatan’ dan ‘kebebasan berasal dari tanggung jawab’. Jika udah begini berkenan nyalahin siapa? Internet? Provider? Pemerintah yang anda protes karena bikin gerakan internet sehat? Mereka adalah Fahri Hamzah dan Fadli...

Nynyir Termasuk Budaya Menyindir Kaum Sosmed

Hal apa yang sebetulnya bisa kami komentari perihal netizen, padahal kita seluruh anggota dari netizen Tapi bisa saja di sini kami sudi bahas netizen yang hobi komentar dan nyinyir, terlebih pada orang yang enggak dikenal – iya, orang-orang yang somehow punyai pas dan tenaga untuk komentar di akun-akun Instagram artis atau ceramah mengenai ‘menutup aurat’ dengan dalih ‘saling mengingatkan’ padahal mah emang pengin nampak mulia aja. Pejabat negara lakukan pernyataannya di sarana massa cetak maupun online hingga di account media sosial seperti Twiiter, Facebook, Instagram, dan seterusnya yang sarat bersama nyinyir. Nyinyir mulanya di awali dari bercanda sesudah itu normalitas apalagi sampai tendensius politis yang sarat dengan politik devide et impera. Media sosial memberi tambahan kita anonimitas dan kamuflase di dalam bentuk grup sehingga kami bisa bebas berbuat apapun. Hal ini yang pada akhirnya menambahkan semacam ‘kekuatan’ dan ‘kebebasan berasal dari tanggung jawab’. Jika telah be...

Woow! Ternyata Mereka ini gurunya budaya Nyinyir Netizen

Budaya nyinyir merasa menjamur dibangsa kita. Hal ini jadi keprihatinan dikalangan penduduk berasal dari tingkat anak-anak di sekolah dan rekan bermainnya, sesama rekan di kantor atau kampus, rekan kerja, lingkungan sekitar, dirumah lebih-lebih di kalangan pemerintah. Pejabat negara melakukan pernyataannya di fasilitas massa cetak maupun online hingga di akun sarana sosial layaknya Twiiter, Facebook, Instagram, dan sebagainya yang sarat bersama nyinyir. Nyinyir mulanya di mulai berasal dari bercanda sesudah itu normalitas apalagi hingga tendensius politis yang sarat dengan politik devide et impera. Ironis bangsa ini yang menganut demokrasi tapi salah kaprah apalagi pasca reformasi jamannya era Jokowi menjadi berasal dari pejabat publik hingga masyarakat dan kalangan kaum muda berani yang condong kebablasan dan hobi nyinyir , kita hampir melupakan tata kesopanan di dalam memperlakukan sesama kita. Pentingnya melindungi mulut kita sebab kata-kata tunjukkan kualitas diri seseorang. Jan...

Nynyir Termasuk kebiasaan Menyindir Kaum Sosmed

Hal apa yang sebenarnya mampu kami komentari berkenaan netizen, padahal kami semua anggota dari netizen Tapi mungkin di sini kami mau bahas netizen yang hobi komentar dan nyinyir, terlebih terhadap orang yang enggak dikenal – iya, orang-orang yang somehow miliki saat dan tenaga untuk komentar di akun-akun Instagram artis atau ceramah tentang ‘menutup aurat’ bersama dalih ‘saling mengingatkan’ padahal mah emang pengin keluar mulia aja. Pejabat negara jalankan pernyataannya di sarana massa cetak maupun online sampai di akun tempat sosial seperti Twiiter, Facebook, Instagram, dan seterusnya yang sarat bersama dengan nyinyir. Nyinyir awalnya diawali dari bercanda lantas normalitas bahkan sampai tendensius politis yang sarat bersama dengan politik devide et impera. Media sosial memberi tambahan kita anonimitas dan kamuflase dalam wujud group supaya kita bisa bebas berbuat apapun. Hal ini yang pada akhirnya memberikan semacam ‘kekuatan’ dan ‘kebebasan dari tanggung jawab’. Jika sudah begini...